Pengertian Politik dan Awal Mula Politik Ada di Indonesia

Pengertian Politik dan Awal Mula Politik Ada di Indonesia

Xukai – Politik Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) yang akan di laksanakan pada tanggal 14 Februari 2024. Agenda yang di adakan setiap lima tahun sekali ini bertujuan untuk memilih Presiden, Wakil Presiden, anggota NDP, anggota NPR, anggota Kabupaten/Kota, dan DPD. anggota.

Menjelang pemilu, masyarakat sering mendengar istilah-istilah berbeda dalam dunia politik, salah satunya adalah Divide et Impera atau sering di sebut dengan politik memecah belah.

Jadi, apa kebijakan mengadu domba satu sama lain? Lantas, kapan politik adu domba muncul di Indonesia? Simak pembahasan lengkapnya di artikel ini.

Apa kebijakan Adu – domba?

Politik adu domba adalah strategi yang di miliki oleh politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan dengan memecah berbagai kelompok besar. Ketika sebuah kelompok besar terpecah menjadi banyak kelompok kecil, mudah untuk mengalahkan atau mengalahkan mereka.

Mengutip buku Mamonisme karya Maman A. Majid Binfas, pada prinsipnya praktik mengadu domba adalah memecah belah kelompok besar yang saling beradu (melawan satu sama lain) yang di anggap besar pengaruh dan kekuatannya. Dalam konteks lain, kebijakan mengadu domba juga berarti mencegah kelompok kecil untuk bersatu menjadi kelompok yang lebih besar dan kuat.

Di Indonesia, implikasi politik mengadu domba sudah terlihat sejak zaman penjajahan Belanda. Simak kisah awal politik Indonesia yang mengadu domba di bawah ini.

Awal dari Politik adu domba di Indonesia

Kebijakan mengadu domba sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun lalu, tepatnya saat pasukan Belanda datang ke Indonesia. Hal itu di lakukan Belanda sebagai strategi kepentingan politik, militer, dan ekonomi guna mempertahankan kekuasaan dan pengaruh kolonial Belanda di Indonesia.

Dalam buku Devide Et Impera: Mengetahui Taktik dan Strategi Belanda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kebijakan mengadu domba pertama kali di perkenalkan di Indonesia oleh Vereenigde Oost-indische Compagnie (VOC), perusahaan dagang terbesar dari Belanda pada abad ke-17.

Tujuan utama VOC di Indonesia adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara, menguasai jalur perdagangan dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di Asia.

Namun VOC harus menghancurkan berbagai kerajaan Nusantara terlebih dahulu. Melihat bahwa pertempuran saja tidak cukup, VOC akhirnya menerapkan strategi politik untuk mengadu domba.

VOC melakukan pendekatan dengan menjalin pertemanan dan menciptakan musuh bersama. Artinya, mereka berusaha berbaur dan mengenal orang-orang dari berbagai kerajaan di Nusantara. Kemudian, VOC juga menganggap bahwa semua orang adalah sama, sehingga tidak ada yang membedakan satu dengan lainnya.

Selain itu, VOC juga memainkan dua sisi (win-win solution). Dalam situasi ini, pemerintah Belanda berpihak pada dua kubu yang berseberangan, seolah-olah berada pada posisi netral. Biasanya cara ini di lakukan terhadap entitas politik yang sedang mengalami konflik internal.

Meski VOC resmi bubar pada 1799, kebijakan mengadu domba terus berlanjut di Indonesia. Cara lain adalah pengorganisasian perang saudara, yaitu penggunaan warga negara sebagai kekuatan bersenjata melawan rakyatnya sendiri. Contohnya adalah Perang Padre, yaitu perang antara kaum Padre dengan penduduk pribumi pada tahun 1803-1838.

Seiring berjalannya waktu, kebijakan mengadu domba tidak lagi di gunakan oleh pemerintah Belanda sejak lama. Kini, negara ini sangat memegang teguh Hak Asasi Manusia (HAM).

Sayangnya, kebijakan mengadu domba masih sering terjadi di Indonesia, apalagi menjelang tahun politik. Padahal, semua elemen partai harus bahu-membahu, saling menguatkan dan melengkapi, demi kemajuan bangsa Indonesia.

Unsur Politik Saling Berperang

Menurut Irwan Prayitno yang di kutip dari buku Mamonisme, ada beberapa unsur yang di gunakan dalam praktik mengadu domba antara satu dengan lainnya, yaitu sebagai berikut:

Menciptakan atau mendorong perpecahan dalam masyarakat untuk mencegah terbentuknya aliansi yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar di lingkungan.
Itu memunculkan banyak karakter baru yang saling bersaing dan melemahkan satu sama lain.
Mendorong ketidakpercayaan di antara warga untuk membangkitkan permusuhan di antara warga.
Mendorong konsumsi yang pada gilirannya berujung pada munculnya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) di suatu negara.
Pada dasarnya, tujuan mengadu domba satu sama lain adalah untuk membagi kekuatan dalam kelompok menjadi kelompok yang lebih kecil dan kurang kuat. Dengan cara ini, akan lebih mudah untuk melumpuhkan dan mengontrol kelompok kecil tersebut.

Baca Juga: Elektabilitas Prabowo Unggul di Kalangan Generasi Z dan Milenial Pada Survei Indikator Politik

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *